Cerpen _ Mawar yang Terbiar…..(Sepenggal Ending…)

Kemarin, wanita itu, mawar segar yang mengukir senyum dengan bibirnya yang ranum dan berseri menyambut gemulainya sang fajar, tapi kemarin juga peti kenangan yang tak mungkin kembali. Gigi-gigi takdir telah merenggut pelangi senja yang terbias di hati dua jiwa. Yang tinggal hanyalah…. luka bathin yang tercabik.

Kehidupan sungguh drama menyakitkan bagi sebagian orang. Sebelum Avia sempat menyampaikan berita –yang telah disepakatinya dengan Surya- pada Syakila, mulut-mulut nyinyir yang berbau hasut telah menyiarkan kabar racun yang tidak benar demi kepentingannya sendiri.

“Surya telah mencampakkan kekasihnya lalu pergi untuk menikahi sahabatnya, Avia.”

———————————————————————————————————————————

……,,,,,,!!!!!????

Malam terus merayap merentangkan sayap-sayapnya yang semakin tebal. Burung hantu, lagu kematian dan isak tangis semakin berbaur memenuhi sudut-sudut ruangan. Hambar, dingin, tanpa gairah.

Surya Wira bergetar seakan aliran listrik dengan daya besar mengalir di tubuhnya. Dia terperanjat dari lamunan panjang ketika Rany menangis histeris dengan suara melengking yang mengalahkan ayat-ayat do’a.

“Kakaaaak…!!!! Bangun Kaaak!!!!” Rany terus menggoyang-goyangkan tubuh Syakila yang terbaring tak bedaya.

“Kenapa harus rela mengorbankan diri seperti ini? Laki-laki dan temanmu itu memang kejam. Biarkan mereka!”

Ayah Syakila yang duduk di sebelah kanan anaknya hanya diam dengan air mata, menutupi kebenaran yang dia ketahui. Dialah yang telah menciptakan prahara untuk anaknya sendiri yang akibatnya mengusung Syakila ke liang lahat.

Orang-orang melihat Syakila -yang tidak sanggup melepaskan jeratan rantai baja di lehernya, terengah-engah dengan nafas yang semakin tersumbat.

“Rany Adikku, jangan Menangis…! Aku rela takdirNya, biarkan aku kuyup dalam derita ini! Sekali lagi, ceritakan pada semua orang, jika kelaparan siang dan malam, aku tidak akan seperti ini…. Dan, jangan kau ceritakan pada laki-laki itu, aku tetap mencintainya! Biarkan aku menjadi lilin yang membakar diri sendiri…! Kehilangan dan ditinggalkan.”

“Anakuuuu…!!!” Ibunya menangis keras melumuri Syakila yang wajahnya semakin pucat.

Dengan terengah-engah dan air mata yang terus mengalir,

“Bu, ceritakan juga pada Avia, temanku, aku bahagia walau dikhianati. Ceritakan saja, aku seperti ini… hanya karena…. kita tidak sanggup… membayar, obat mujarab”

Gendang kehidupan semakin lamban bertalu.

Ditengah-tengah kesedihan keluarga, orang yang tidak tahu apa-apa dan bermulut nyinyir masih tidak puas melihat Syakila seperti itu, lalu bicara dengan membungkam mulut,

“HeuH, katanya dia itu ikhlas! Lihat saja, Tuhan telah membuktikan keagunganNya dengan menyiksa wanita itu seperti pelacur jalanan. Tubuhnya telah diserahkan pada laki-laki yang meninggalkannya.”

Surya yang menyaksikan semua ini tak kuasa menahan sedih, mata pisau yang tajam seakan mengiris-iris hatinya dan jaringan kaca tipis di matanya itu dibiarkannya meleleh. Hatinya penuh luka melihat tubuh wanita yang dikasihi layaknya pohon kering tanpa kulit menahan badai prahara sendirian.

Syakila membelalak.

Isak tangis semakin pecah ketika angin yang mengalir menggoyangkan pucuk-pucuk cemara berjalan menelusuri lembah-lembah yang dalam lalu membuka halimun baja dan benar-benar merangkum ruh gadis malang itu.

Bersama itu Surya Wira menghamburkan tubuhnya dengan hati yang menjerit dan luka menganga yang terbiar ………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s